Wednesday, July 16, 2008

Belajar Dari Po (Kungfu Panda)

Po , si Panda jantan, yang sehari-hari bekerja di toko mie ayahnya, memiliki impian untuk menjadi seorang pendekar Kung Fu. Tak disangka, dalam pemilihan Pendekar Naga, Po dinobatkan sebagai Pendekar Naga yangdinanti- nantikan kehadirannya untuk melindungi desa dari balas dendam Tai Lung. Saat menonton film animasi ini, kita seperti diingatkan tentang beberapa hal: 1. The secret to be special is you have to believe you're special. Po hampir putus asa karena tidak mampu memecahkan rahasia Kitab Naga, yang hanya berupa lembaran kosong. Wejangan dari ayahnya-lah yang akhirnya membuatnya kembali bersemangat dan memandang positif dirinya sendiri. Kalau kita berpikir diri kita adalah spesial, unik, berharga kita pun akan punya daya dorong untuk melakukan hal-hal yang spesial. Kita akan bisa, kalau kita berpikir kita bisa. Seperti kata Master Oogway, You just need to believe 2. Teruslah kejar impianmu. Po , panda gemuk yang untuk bergerak saja susah akhirnya bisa menguasai ilmu Kung Fu. Berapa banyak dari kita yang akhirnya menyerah, gagal mencapai impian karena terhalang oleh pikiran negatif diri kita sendiri? Seperti kata Master Oogway, kemarin adalah sejarah, esok adalah misteri, saat ini adalah anugerah, makanya disebut Present hadiah. Jangan biarkan diri kita dihalangi oleh kegagalan masa lalu dan ketakutan masa depan. Ayo berjuanglah di masa sekarang yang telah dianugerahkan Tuhan padamu. 3. Kamu tidak akan bisa mengembangkan orang lain, sebelum kamu percaya dengan kemampuan orang itu, dan kemampuan dirimu sendiri. Master ShiFu ogah-ogahan melatih Po. Ia memandang Po tidak berbakat. Kalaupun Po bisa, mana mungkin ia melatih Po dalam waktu sekejap. Kondisi ini berbalik seratus delapan puluh derajat, setelah ShiFu diyakinkan Master Oogway -gurunya- bahwa Po sungguh-sungguh adalah Pendekar Naga dan Shi Fu satu-satunya orang yang mampu melatihnya. Sebagai guru atau orang tua, hal yang paling harus dihindari adalah memberi label bahwa anak ini tidak punya peluang untuk berubah. Sangatlah mudah bagi kita untuk menganggap orang lain tidak punya masa depan. Kesulitan juga acap kali membuat kita kehilangan percaya diri, bahwa kita masih mampu untuk membimbing mereka. 4.Tiap individu belajar dengan cara dan motivasinya sendiri. Shi Fu akhirnya menemukan bahwa Po baru termotivasi dan bisa mengeluarkan semua kemampuannya, bila terkait dengan makanan. Po tidak bisa menjalani latihan seperti 5 murid jagoannya yang lain. Demikian juga dengan setiap anak. Kita ingat ada 3 gaya belajar yang kombinasi ketiganya membuat setiap orang punya gaya belajar yang unik. Hal yang menjadi motivasi tiap orang juga berbeda-beda. Ketika kita memaksakan keseragaman proses belajar, dipastikan akan ada anak-anak yang dirugikan. 5. Kebanggaan berlebihan atas anak/murid/diri sendiri bisa membutakan mata kita tentang kondisi sebenarnya, bahkan bisa membawa mereka ke arah yang salah. Master ShiFu sangat menyayangi Tai Lung, seekor macan tutul, murid pertamanya, yang ia asuh sejak bayi. Ia membentuk Tai Lung sedemikian rupa agar sesuai dengan harapannya. Memberikan impian bahwa Tai Lung akan menjadi Pendekar Naga yang mewarisi ilmu tertinggi. Sayangnya Shi Fu tidak melihat sisi jahat dari Tai Lung dan harus membayar mahal, bahkan nyaris kehilangan nyawanya. Seringkali kita memiliki image yang keliru tentang diri sendiri/anak/ murid kita. Parahnya, ada pula yang dengan sengaja mempertebal tembok kebohongan ini dengan hanya mau mendengar informasi dan konfirmasi dari orang-orang tertentu. Baru-baru ini saya bertemu seorang ibu yang selama 14 tahun masih sibuk membohongi diri bahwa anaknya tidak autis. Ia lebih senang berkonsultasi dengan orang yang tidak ahli di bidang autistik. Mendeskreditkan pandangan ahli-ahli di bidang autistik. Dengan sengaja memilih terapis yang tidak kompeten, agar bisa disetir sesuai keinginannya. Akibatnya proses terapi 11 tahun tidak membuahkan hasil yang signifikan. Ketika kita punya image yang keliru, kita akan melangkah ke arah yang keliru. 6. Hidup memang penuh kepahitan, tapi jangan biarkan kepahitan tinggal dalam hatimu. Setelah dikhianati oleh Tai Lung, Shi Fu tidak pernah lagi menunjukkan kebanggaan dan kasih sayang pada murid-muridnya. Sisi terburuk dari kepahitan adalah kita tidak bisa merasakan kasih sayang dan tidak bisa berbagi kasih sayang. 7. Keluarga sangatlah penting. Di saat merasa terpuruk, Po disambut hangat oleh sang ayah. Berkat ayahnya pula Po dapat memecahkan rahasia Kitab Naga dan menjadi Pendekar nomor satu. Sudahkah kita memberi dukungan pada anggota keluarga kita? Sumber : Albert Riyandi (AnakBinus & Yukriset Mailing List)

Tuesday, July 15, 2008

Batu Besar

Suatu hari seorang dosen sedang memberi kuliah tentang manajemen waktu pada para mahasiswa MBA. Dengan penuh semangat ia berdiri di depan kelas dan berkata, "Okay, sekarang waktunya untuk quiz." Kemudian ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakkannya di meja. Kemudian ia mengisi ember tersebut dengan batu sebesar kepalan tangan. Ia mengisi terus hingga tidak ada lagi batu yang cukup untuk dimasukkan ke dalam ember. Ia bertanya pada kelas, "Menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?" Semua mahasiswa serentak berkata, "Ya!" Dosen bertanya kembali, "Sungguhkah demikian?" Kemudian, dari dalam meja ia mengeluarkan sekantung kerikil-kerikil kecil. Ia menuangkan kerikil-kerikil itu ke dalam ember, lalu mengocok-ngocok ember itu sehingga kerikil-kerikil itu turun ke bawah mengisi celah-celah kosong di antara batu-batu. Kemudian, sekali lagi ia bertanya pada kelas, "Nah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" Kali ini para mahasiswa terdiam. Seseorang menjawab, "Mungkin belum." "Bagus sekali," sahut dosen. Kemudian ia mengeluarkan sekantung pasir dan menuangkannya ke dalam ember. Pasir itu berjatuhan mengisi celah-celah kosong antara batu dan kerikil. Sekali lagi, ia bertanya pada kelas, "Baiklah, apakah sekarang ember ini sudah penuh?" "Belum!" Sahut seluruh kelas. Sekali lagi ia berkata, "Bagus, bagus sekali." Kemudian ia meraih sebotol air dan mulai menuangkan airnya ke dalam ember sampai ke bibir ember. Lalu ia menoleh ke kelas dan bertanya, "Tahukah kalian apa maksud ilustrasi ini?" Seorang mahasiswa dengan bersemangat mengacungkan jari dan berkata, "Maksudnya adalah, tidak peduli seberapa padat jadwal kita, bila kita mau berusaha sekuat tenaga maka pasti kita bisa mengerjakannya." "Oh bukan," sahut dosen, "Bukan itu maksudnya. Kenyataan dari ilustrasi mengajarkan pada kita bahwa: bila Anda tidak memasukkan batu besar terlebih dahulu, maka Anda tidak akan bisa memasukkan semuanya." Apa yang dimaksud dengan "batu besar" dalam hidup kita? Anak-anak Anda, pasangan Anda, pendidikan Anda. Hal-hal yang penting dalam hidup Anda, mengajarkan sesuatu pada orang lain, melakukan pekerjaan yang Anda cintai, waktu untuk diri sendiri, kesehatan Anda, teman Anda, atau semua yang berharga. Ingatlah untuk selalu untuk memasukkan "batu besar" pertama kali atau Anda akan kehilangan semuanya. Bila Anda mengisinya dengan hal-hal kecil (semacam kerikil dan pasir) maka hidup Anda akan penuh dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini semestinya tidak perlu. Karena dengan demikian Anda tidak akan pernah memiliki waktu yang sesungguhnya Anda perlukan untuk hal-hal besar dan penting. Oleh karena itu, setiap pagi atau malam, ketika akan merenungkan cerita pendek ini, tanyalah pada diri Anda sendiri: Apakah "batu besar" dalam hidup saya? Lalu kerjakan itu pertama kali. Sumber : www.jawaban.com

Tersenyum adalah Hal yang Serius!

Ada banyak orang di seluruh dunia yang berurusan dengan stress dan depresi, atau paling tidak sedang berusaha menghadapinya. Ada banyak penyebab depresi dan ada berbagai solusi yang ditawarkan. Beberapa memang efektif, tapi kebanyakan tidak. Beberapa menolong secara sementara, tapi semua itu tidak akan pernah bisa secara permanen mengenyahkan siksaan depresi. Tidak ada seorangpun yang kebal terhadap depresi atau efeknya yang melumpuhkan. Orang-orang dari berbagai profesi, dokter, pengacara, guru, ibu rumah tangga, janda, duda, anak muda, orang tua, lajang, semuanya pernah merasakan depresi. Saya percaya alasan mengapa banyak orang menderita depresi adalah karena mereka belu belajar untuk berurusan dengan kekecewaan, yang dengan mudah bisa memimpin kita menuju depresi, patah semangat, dan bahkan kehilangan harapan jika kita mengijinkannya tinggal terlalu lama. Orang yang depresi mungkin merasa sedih dan bahkan tidak mau berbicara kepada siapapun atau pergi kemanapun, memilih untuk tinggal sendiri dengan pemikiran-pemikiran negatif dan sikap masam. Orang yang putus asa atau patah semangat, mempunyai gejala-gejala yang sama dengan orang yang depresi, tapi gejala-gejalanya lebih dalam, dengan pikiran yang murung dan hilangnya semangat. Mereka kehilangan semua keberanian, dan perasaan itu dengan cepat memimpin pada kehilangan harapan. Kehilangan harapan berbeda dari depresi atau putus asa. Orang-orang yang kehilangan harapan telah menyerah, mereka tidak mau melakukan apapun untuk menolong diri mereka sendiri. Merela tidak peduli pada apapun lagi, dan cenderung mudah mengembangkan kegusaran atau kemarahan, yang bahkan bisa menghasilkan tindakan kekerasan. Dengan mengenali akibat-akibat yang menghancurkan dari proses itu, kita perlu mengerti pentingnya berurusan (dan sukses!) dengan kekecewaan dan depresi di tahap-tahap awal. Kabar baiknya adalah Tuhan bisa menolong kita dalam menghadapinya dan kemudian mengatasinya jika kita meminta pertolonganNya. Sekali waktu, saat saya sedang menyiapkan kotbah tentang depresi, saya bisa melihat dengan jelas bahwa Tuhan telah memberikan pada kita sukacitaNya untuk melawan depresi. Sebagai seorang anak, saya yakin sukacita saya telah dirampok. Karena selama saya bisa mengingatnya, saya hidup seolah-olah saya sudah dewasa, karena semua hal dalam hidup saya begitu serius. Saya mengalami bayak kondisi yang buruk, dikelilingi oleh situasi-situasi yang negatif. Saya pikir jika saya tetap bersikap serius, maka saya akan dapat bertahan hidup. Tapi dengan sikap seperti ini, saya tidak mengembangkan tipe kepribadian yang periang atau ceria. Saya mengembangkan sikap yang serius, dan karena itu, orang-orang terkadang salah paham terhadap saya. Sekali waktu saya mengatakan pada asisten saya bahwa saya perlu berbicara dengan dia sebelum dia pulang kerja. Rencana saya, saya ingin meminta bantuannya menyiapkan pertemuan kantor berikutnya. Tapi karena pendekatan serius saya kepadanya, dia berpikir saya akan menegur dia karena kesalahan yang dia buat. Dia berpikir dia sedang berada dalam masalah besar! Insiden itu membantu saya untuk menyadari bahwa saya mempunyai masalah. Saya tahu sikap saya yang serius telah mengasingkan saya dari orang-orang ketimbang membuat saya terlihat lebih mudah didekati oleh mereka. Jadi saya mulai bertanya pada Tuhan bagaimana Dia ingin saya berurusan dengan masalah keseriusan ini. Saya merasa jawaban dariNya hanyalah dengan mengijinkan sukacita yang telah Dia letakkan di dalam hati saya lebih lagi terlihat di wajah saya. Tuhan ingin saya lebih sering tersenyum! Semua orang tahu bagaimana untuk tersenyum. Itu adalah salah satu hadiah terindah yang Tuhan berikan pada kita. Sebuah senyuman membuat orang merasa baik, dan orang akan terlihat cantik saat mereka tersenyum. Saat sukacita dalam hidup Anda terlihat jelas, itu bisa menular ke orang lain. Tapi saat Anda menahan sukacita Tuhan terkunci di dalam dan tidak mengijinkannya memancar keluar, Anda mengambil kesenangan dan pengalaman yang menyegarkan dari orang-orang di sekitar Anda. Kebanyakan orang benar-benar tidak mengerti bagaimana mengekspresikan sukacita dapat mengubah keadaan mereka, dan bahkan mungkin kehidupan orang lain. Menjalani hidup Anda dengan sukacita dari Tuhan akan menyingkirkan keadaan-keadaan yang negatif. Saya tidak pernah menyangka bahwa tersenyum adalah sesuatu yang begitu serius, tapi Tuhan telah menghabiskan waktu selama beberapa bulan untuk membuat saya mengerti akan hal ini. Mengekspresikan sukacita lewat senyuman membawa hal-hal yang baik ke dalam hidup Anda dan membagi sukacita Tuhan dengan orang lain. Sumber : www.jawaban.com

Monday, July 14, 2008

TTM / HTS. How???

TTM seolah-olah menemukan definisinya. Konsep pertemanan dengan dibumbui sedikit getar-getar asmara tapi bukan pacaran, itulah TTM. Menurut psikolog Roslina Verauli, M.Psi, dari Klinik Empati dan RS Cengkareng, batasan antara TTM dan pacaran sebenarnya ada pada kata komitmen. "Dalam TTM, si pasangan tidak memiliki komitmen untuk menjalin hubungan sebagai pacar. Padahal hubungan ini melibatkan passion yang sebenarnya ada dalam cinta." Lebih lanjut, Verauli mengutip konsep Steinberg, psikolog dari Universitas Yale, soal cinta. Steinberg mengurai cinta dalam tiga komponen, yaitu intimacy (kedekatan), passion (gairah) dan commitment (komitmen).
Dalam intimacy, pasangan saling terbuka untuk bisa saling mengenal. Dari sana kemudian tercipta rasa aman dan nyaman terhadap diri masing-masing. Dalam passion, ada gairah dan ketertarikan yang biasanya menjurus pada seksualitas. Sementara dalam komitmen, ada keinginan saling memiliki dan ingin tahu ke mana arah hubungan selanjutnya. Kalau ketiganya ada, lengkaplah true love-nya. Kalau hanya ada intimacy, itu disebut teman biasa. Tapi kalau ada intimacy dan passion, itulah yang namanya TTM tadi.
Mengisi Kekosongan Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis, kebutuhan akan rasa aman dan terlindungi, menjadi bagian dari orang lain, dan dukungan untuk bisa meningkatkkan rasa peraya diri. Di zaman sekarang, ketika kita banyak disibukkan dengan pekerjaan, kadang kita tak sempat lagi bersosialisasi. Muncullah kekosongan emosional dalam diri kita. Otomatis, kebutuhan-kebutuhan tadi pun tak bisa dipenuhi.
Ketika kemudian kita bertemu seseorang yang kita pikir bisa mengisi kekosongan tadi, mulailah kita dekat dan akhirnya jalan bareng. Tapi yang namanya cinta, selain memerlukan tiga komponen tadi (intimacy, passion dan commitment), juga butuh faktor-faktor seperti right person, right time dan right place. Ketika salah satu dari ketiga faktor itu tidak terpenuhi, makanya jadilah TTM.
Berakhir Kapan pun Baik pertemanan atau pacaran sebenarnya memiliki kesamaan. Keduanya sama-sama bisa mengurangi perasaan kesendirian, meningkatkan rasa aman dan rasa bahagia. TTM yang posisinya berada di tengah, sudah pasti mencakup kesamaan tersebut. Di sinilah enaknya TTM. Tapi, dalam TTM tidak ada komitmen berpacaran. Itu artinya, tidak ada tanggung jawab atau kewajiban untuk saling menjaga perasaan atau hubungan. Itu sebabnya, kita tak bisa berharap Si TTM menelepon tiap hari seperti yang kita inginkan. Kita tak bisa mengharap Si TTM tidak berselingkuh, karena kita tidak memiliki komitmen.
Karena tidak ada komitmen, hubungan TTM juga bisa berakhir kapan saja. Di saat kita sedang merasa dekat-dekatnya dengan Si TTM, tiba-tiba hubungan harus berakhir. Pasti sakit dong rasanya, karena harapan kita tidak sesuai dengan kenyataan. Itulah risiko hidup di zaman serba instan yang segalanya bisa didapat dengan mudah. Ambang kesabaran manusia menjadi rendah. Karena pacaran sulit, terutama dalam menjaga hubungan dan komitmen, orang yang terbiasa instan akan memilih TTM. Seandainya ada masalah, mereka tinggal pergi dan mencari TTM baru. Orang seperti ini pastinya akan sulit mencari pasangan sejati. Secara emosional, ia juga dangkal karena tidak pernah menjalin hubungan yang dalam.
Perselingkuhan Terselubung Buat mereka yang sudah berpacaran tapi tetap ber-TTM, Verauli menyebut sebagai perselingkuhan terselubung. Unsur infidelity (ketidaksetiaan) berperan besar. Dengan mengatasnamakan pertemanan, unsur perselingkuhan terbalut. Perasaan bersalah pun jadi lebih kecil. Karena, ketika ditanya pacar, pasti jawabannya hanya teman. Kalau teman, tapi kok mesra?
Verauli menyarankan untuk berhati-hati dengan orang-orang seperti ini. Orang yang baru selingkuh satu kali, itu bisa dikatakan kepleset. Tapi orang yang selingkuh berkali-kali, itu namanya pola dan bisa menjadi habit atau kebiasaan. Sampai tua cenderung akan selingkuh. Sebagai anak muda, Amsal 4:23 dengan jelas mengatakan, Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan. Dengan mengambil pola TTM, pernahkah terpikirkan oleh Anda berapa hati yang akan terluka karena komitmen yang tidak Anda miliki? Dan mungkin saja Anda sendiri pun akan terluka. Karena ketiadaan komitmen ini, tentu saja Anda tidak bisa berharap apa-apa dari hubungan ini.
Hal lain yang perlu semakin diwaspadai dengan pola TTM adalah berkembangnya pribadi-pribadi yang takut untuk berkomitmen tapi menginginkan hal yang lebih daripada teman, bahkan sampai masalah seks. Dapat dibayangkan berapa banyak kerusakan moral yang terjadi akibat tindakan yang tidak bertanggung jawab ini.
Waktunya bagi generasi muda untuk bangkit dan menunjukkan terang Tuhan dan kasih sejati yang telah dianugerahkan bagi setiap kita. Kalau bukan dari kita, dari siapa lagi dunia ini akan mengenal kasih Tuhan? Jangan sampai karena sikap kita, apalagi mengikuti pola dunia dengan ber-TTM, membuat orang lain tersandung dan berpaling dari kasih Kristus. Jadilah teladan dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesetiaanmu (1 Timotius 4:12).
Sumber : www.jawaban.com

Sunday, July 13, 2008

RAMALAN

Jakarta - Tayangan iklan ramalan di industri pertelevisian akhir-akhir ini marak terjadi. Penonton diajak untuk "menyerahkan" masa depan dirinya kepada para peramal-peramal bajakan. Seperti dengan mengetik "Reg (spasi) weton" yang difasilitasi oleh Ki Joko Bodo. Ia telah menganggap dirinya seperti "Tuhan" yang dapat menuntun. Bahkan mengubah nasib manusia. Lihat saja pernyataannya dalam iklan di televisi. Tidak berbeda dengan Firaun di Mesir yang memproklamirkan dirinya sebagai Tuhan dan mampu menentukan takdir hidup dan mati manusia. Dalam teologi agama mana pun di dunia hal seperti ini tidak diperbolehkan. Bahkan, dilarang dan akan dikenakan sanksi bagi pelaku dan yang mempercayainya. Karena orang yang mempercayai ramalan sama dengan merendahkan Tuhan. Hanya Tuhan yang maha kuasa yang berwenang menentukan takdir hambanya. Bukan manusia yang menentukan garis kehidupan. Manusia hanya berhak berusaha untuk mendapatkan setiap keinginannya. Presiden SBY seharusnya bisa menyikapi persoalan ini. Jika dibiarkan berlarut akan terjadi pembodohan besar-besaran kepada masyarakat akibat Industri pertelekomunikasian yang hanya ingin mendapat keuntungan ansich. Pola peramalan seperti "weton" ini akan membawa dampak negatif. Pertama, secara teologis peramalan adalah sesuatu yang dilarang ajaran agama. Kedua, secara psikologis tayangan iklan ramalan akan membuat masyarakat bermental pesimistis dan tidak membangun kemandirian. Ketiga, secara sosiologis tayangan tersebut membodohi masyarakat. Dengan mengemukakan tiga alasan di atas diharapkan para pihak yang bertanggungjawab dapat mempertimbangkan kepentingan industrinya demi kepentingan masyarakat pada umumnya. Karena tayangan peramalan, dalam bentuk apapun, akan menyesatkan iman. Bukankah manusia yang mengimani Tuhan lebih bermartabat? Sumber : www.detik.com

Makna Hajaran Tuhan

Yesaya 60:8-10

PENDAHULUAN

Allah kita adalah Allah yang mempunyai misi buat hidup kita. Allah kita adalah yang mau menerima kita apa adanya tetapi Allah kita bukan Allah yang mau kita apa adanya. Allah mau menerima sekalipun kita orang yang kasar, sekalipun pernah berzinah, banci, homo sex, lesbian, pengguna narkoba, tidak ada seorangpun yang ditolak Tuhan bila kita mau datang kepada Tuhan. Mengapa? Karena alkitab berkata “mari hai kamu yang letih lesu dan berbeban berat kamu akan mendapatkan kelegaan” maksudnya adalah mari kita yang mempunyai masalah dalam hidup ini datang kepada Tuhan maka Tuhan akan memberikan kita kelegaan. Tuhan tidak kehilangan cara untuk membawa kita dekat pada-Nya. Cara didikan Tuhan dapat kita alami berupa :

1. Kita diberkati Tuhan, agar kita sadar bahwa kita hidup untuk Tuhan dan Tuhan satu-satunya penolong kita. Cth: Tuhan bukakan jalan untuk usaha kita agar kita dapat melunasi hutang-hutang kita.
2. Kita ditegur melalui firman-Nya, bila kita belum sadar juga maka Tuhan buat ‘polisi tidur’ dalam hidup kita agar kita benar-benar sadar

Tuhan tidak akan pernah menyerah atau berhenti mendidik kita sampai misi Tuhan selesai dalam hidup kita.

PENJELASAN

Mendengar kata hajar sebagian kita biasanya memiliki konotasi yang negative. Kenapa? karena membandingkannya dengan sikap manusia. Kalau manusia sampai menghajar itu biasanya :

1. Sudah habis kesabarannya
2. Dengan amarah yang meledak-ledak bahkan sudah disertai dengan kebencian.
3. Mengharapkan hal-hal yang negative.

Namun berbeda dengan Tuhan yang menghajar umat-Nya, yaitu karena :

1. Allah yang menghajar kita bukan Allah yang mengharapkan kehancuran tetapi Allah yang mengharapkan kita maju (Ibr 12:5-6).
2. Allah menghajar dengan kasih dan Allah menghajar dengan target/tujuan (Maz.94:12)

Karena Allah menerima kita apa adanya tetapi Allah tidak membiarkan kita apa adanya, Allah mau keluarkan yang terbaik dalam hidup kita. Pertanyaannya ? Apa target/tujuan Tuhan dalam menghajar kita ?

1. Perubahan (Yes.51:1-3)
2. Pendidikan (1 Kor.11:32)
3. Pemurnian (Dan.11:35)
4. Pemulihan (Kis 3:19; Maz.126:1-6)

Kesimpulan

Allah kita bukan hanya Allah yang mempunyai misi tetapi Allah kita Allah yang juga sabar. Sabar dalam menghadapi kita umatnya yang kerap kali tidak menuruti perintah-Nya. Allah akan menegur dan menghajar umat-Nya sampai kita selesai dalam misinya Tuhan. Haleluya, amin.

Sumber : www.glministry.com

Friday, July 11, 2008

STRESS...??? Buka Telinga Anda

Saya telah belajar sesuatu dalam usaha saya sendiri untuk mempunyai kehidupan yang bebas dari sress. Jika saya menginginkan kedamaian dibanding tekanan stress dalam hidup saya, saya harus memilih untuk mencari arahan dari Tuhan dalam setiap situasi. Tuhan kita adalah Tuhan atas damai sejahtera. Dia akan selalu memimpin kita kepada damai sejahtera dan sukacita, bukan kekuatiran dan frustasi. Karena itu, kita harus mendengarkan suaraNya. Dengan mengikuti suaraNya, kita bisa menemukan kedamaian dan mengatasi stress yang dihadapi banyak orang saat-saat ini.

Untuk menemukan damai sejahtera dalam hidup kita, kita perlu menaati arahan yang Tuhan berikan setiap hari. Sebuah "arahan" adalah ketika kita mengetahui dari dalam apa yang harus dilakukan. Raja-raja 1:11,12 menunjukkan "arahan" Tuhan sebagai angin sepoi-sepoi basa, suara yang lembut. ArahanNya bukanlah seperti hantaman palu di kepala! Dalam ayat itu, Tuhan tidak menggunakan angin yang kuat dan kencang, gempa bumi, atau api untuk mengarahkan Elia. SuaraNya datang kepada Elia sebagai suara yang lembut dan tenang. Sebuah "arahan" juga tidak selalu berupa suara. Tuhan bahkan lebih sering memberi arahan dengan berbicara kepada hati Anda daripada kepada telinga Anda.

Karena arahanNya begitu lembut, beberapa mungkin bertanya-tanya apakah arahan itu dari Tuhan atau tidak. Jika Anda tidak merasa yakin tentang suatu arahan, akan lebih mudah bagi Anda untuk mengabaikannya begitu saja. Sekali waktu setelah saya berbelanja di mall selama 3 jam, saya merasa Tuhan berkata, "Kamu perlu pulang ke rumah sekarang." Waktu itu saya baru selesai membeli setengah dari daftar belanjaan saya, jadi saya mengabaikan arahan itu dan meneruskan berbelanja.

Barang-barang yang belum saya beli bukanlah kebutuhan yang mendesak. Tapi, seperti kebanyakan orang yang berorientasi pada tujuan, saya tidak akan meninggalkan mall itu sampai saya selesai membeli semua barang di daftar belanja saya. Saya datang untuk membeli 8 barang, dan saya akan pergi membawa 8 barang itu! Saya tidak akan pergi sampai semua barang ditandai dalam daftar saya. Dan saya tidak akan mendengarkan suara lain yang mengatakan sebaliknya.

Saya ingat saya sudah sampai pada titik dimana saya sudah sangat lelah dan kesal sampai saya tidak mampu berpikir jernih. Yang ingin saya lakukan hanyalah menyelesaikan semuanya dan keluar dari sana. Saya begitu stress sampai saya harus benar-benar menahan diri untuk tetap bersikap sopan pada pembeli lain dan penjaga toko di sana.

Melihat ke belakang, saya tidak ingat berapa kali saya melakukannya, saya menjadi stress karena saya mendorong lebih jauh daripada arahan Tuhan. Saya selalu baru menyadari bahwa saya telah melakukan terlalu jauh saat saya bahkan tidak mampu menunjukkan etika yang paling dasar seperti kesopanan, kebaikan, dan pengendalian diri. Jika saya menaati arahan Tuhan saat saya mendengar arahan Tuhan, suara lembut yang menyuruh saya untuk pulang ke rumah, saya akan dengan mudah lepas dari stress karena situasi itu. Tapi saya malah memaksakan kehendak saya sendiri untuk mencapai tujuan saya, dan saya berakhir membawa stress masuk ke dalam diri saya dan semua orang di sekeliling saya.

Jika kita mendengarkan dan melakukan apa yang Dia katakan, kita akan menemukan bahwa hal-hal akan berjalan dengan baik untuk kita. Tidak peduli apapun situasinya, kita perlu mendengarkan Tuhan dan mematuhi suaraNya. Amsal 3:6 menyatakan, "Akuilah dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu." Anda mungkin tidak mengerti alasan mengapa Tuhan meminta Anda melakukan hal-hal tertentu, tapi jika Anda mendengarkan suaraNya dan menaati arahanNya, Anda bisa mengalami kedamaian dan ketenangan seiring dengan menurunnya tingkat stress Anda. Jadi dengarkan... dan enyahkan stress!

Sumber : Jawaban.com